Sabtu, 29 Mei 2010

Eksplorasi Emas

Ada beberapa konsep dasar dalam eksplorasi mineral, namun yang akan kita diskusikan mengenai trik - trik dalam mengeksplorasi mineral Emas. Beberapa hal yang perlu kita ketahui sebelum eksplorasi emas yaitu :

1. Litologi suatu daerah yang ingin kita eksplorasi
2. Tipe Endapan yang kita cari

cara eksplorasi emas placer dan emas primer sangat berbeda, emas primer akan terkayakan jika banyak mengalami injeksi (Multiple Injection) akan memiliki atau secara sederhana biasa disebut tekstur mineral yang kasar.
Emas Primer (magmatis) terdiri atas Hypothermal, Mesothermal, Epithermal dan Telethermal

untuk mengetahui tipe hydrotermal mineral emas yang anda temukan anda dapat melihat beberapa mineral pencirinya seperti :

Hypothermal : Au, Sn, Cu, Pb, Zn dan As
Mesothermal : Au, Ag, Cu, As, Zn, Ni, Co, Mo, U dll
Epithermal     : Pb, Zn, Au, Ag, Sb, Cu, Bi, U dll
Telethermal    : Pb, Zn, Cd dll

Berbicara mengenai Eksplorasi emas kita dari kalangan Geologist sangat akrab dengan istilah Berburu Vein hal ini dikarenakan Vein - vein kuarsa ini akan menuntun kita menjawab seberapa luas endapan dalam wilayah kita.

Selasa, 16 Februari 2010

Teori Dasar Perpetaan

I. Definisi
        Peta topografi adalah suatu peta yang memperlihatkan atau menggambarkan segala keadaan kenampakan fisik dari roman muka bumi, yang meliputi bentuk, ukuran, letak hubungan dan penyebarannya pada suatu daerah. Dalam hal menginterepetasi/ menganalisa peta topografi, hal yang harus diperhatikan adalah garis kontur dan kontur indeks.
Garis kontur adalah garis yang menghubungkan titik-titik yang terletak pada ketinggian yang sama dari permukaan laut.Beberapa sifat garis kontur sebagai berikut :
1. Satu garis kontur hanya mewakili satu ketinggian tertentu
2. Nilai dari suatu garis kontur dihitung daeri ketinggian muka laut rata-rata mempunyai nilai nol
3. Satu garis kontur tidak akan berpotongan dengan garis kontur laiinya yang mewakili ketinggian berbeda, dan tidak akan berimpit dengan garis kontur lain, kecuali ddalam keadaan tertentu, missal terdapat Over hanging cliff.
4. Garis kontur tidak pernah bercabang dan menyambung garis kontur lain.
5. Garis kontur rapet menunjukkkan lereng yang curam dan renggang menunjukkan lereng yang landai.
6. Garis kontur yang menutup semakin kecil menunjukkan suatu bukit, sedangkan bila diberi tanda garis-garis pendek ( bergerigi ) berarti daerah depresi.
7. Garis kontur harus menutup atau berakhir di tepi peta.
8. Garis kontur dengan harga interval setengah digambarkan berupa garis-garis putus-putus. Biasanya banyak dijumpai pada bagian puncak bukit.
Kontur indeks adalah garis kontur yang dicetak lebih tebal dari garis kontur lainnya, merupakan kelipatan tertentu dari bebrapa garis kontur biasa. Maksud dari pembuatan garis kontur indeks ini adalah untuk menyederhanakan dan mempermudah pembacaan peta topografi. Besarnya kelipatan dipengaruhi oleh medan.

Unsur-unsur penting yang terdapat pada peta topografi antara lain :
1. Relief adalah bentuk ketidak aturan secara vertical dalam ukuran besar, maupun kecil dari permukaan litosfer.
2. Drainage adalah pattern/pola penyaluran yang terdiri dari segala bentuk yang berhubungan dengan penyaluran baik dipermukaan maupun dibawah permukaan bumi.
3. Culture adalah segala bentuk hasil kebudayaan manusia, seperti perkampungan , jalur jalan, perkebunan, persawahan, Dll.
4. Skala adalah perbandingan jarak horizontal sebenarnya dengan jarak dipeta.
5. Orientasi peta
Merupakan bagian yang menunjukkkan kiblat dari peta . garis batas pada kedua sisi samping peta berarah Utara Selatan. Dalam hal ini adalah Utara-Selatan sesungguhnya, bukan Utara kutuub magnetis. Arah Utara dikenal ada dua macam, yaitu :
a. Arah Utara magnetic ( magnet North = MN), yaitu arah Utara yang ditunjukkan oleh jarum magnet.
b. Arah Utara sebenarnya ( True North = TN ) , yaitu arah Utara yang sesuai dengan sumbu bumi.
Arah utara magnetic dan arah utara geografis umumnya ditunjukkan pada peta dan membentuk sudut diantara keduanya yang besarnya bervariasi dengan “ Deklinasi”.
6. Judul peta dan nomor lembar peta adalah merupakan nama daerah yang tercakup dalam peta, sedangkan nomor lembar peta adalah nomor dari peta berdasarkan sistem pembagian yang disebut “ Quadrangle “.
7. Legenda adalah symbol-simbol yang digunakan untuk mewakili bermacam-macam keadaan dilapangan. Penjelasan symbol dipergunakan itu, dikelompokkan dan tercakup dalam legenda. Legenda biasanya diletakkan di bawah.
8. Coverage diagram merupakan diagram yang menunjukkan darimana dan bagaimana cara memperoleh datanya . Keterangan ini penting untuk memperkiarakn sampai sejauh mana ketelitian peta , Misalnya :
- Dibuat berdasarkan foto udara
- Dibuat berdasarakan pengukuran di lapangan
- Dibuat sketsanya
9. Indeks administrasi adalah pembagian daerah berdasarkan hokum pemerintahan. Ini penting unutk mengetahui kemana harus dilakukan pengesahan surat izin sebelum dilakukan penyelidikan lapangan dari peta yang bersangkutan.
10. Index to adjoining sheet adalah petunjuk tentang peta terhadap peta-peta yang ada sebelumnya.
11. Edisi peta dalah tahun pembuatan peta tersebut.

II. Interepetasi Analisa Peta Topografi

1. Interpretasi Bentang alam Geomorfologi

Dalam Interpretasi geologi dari peta topografi, maka penggunaan skala yang digunakan akan sangat membantu. Di Indonesia peta Topografi yang tersedia umumnya mempunyai skala 1 : 25. 000 atau 1 : 50.000 umumnya merupakan perbesaran dari skala 1 : 50.000 dengan demikian relief bumi yang seharusnya muncul pada skala peta 1 : 50.000 atau lebih besar tidak akan muncul dan sama saja skala peta 1: 50.000.
Dengan demikian, sasaran objek Interpretasi akan berlainan dari setiap peta dengan skala berbeda.

Tabel. 1 Hubungan antara skala peta dan pengenalan sasaran objek geomorfologi ( harsolumakso, 2001 )


Dalam Interepetasi peta topografi, prosedur umum yang biasa dilakukan dan cukup efektif adalah :
1. Menarik semua kontur yang menunjukkan kelurusan. Penariakan bisa dengan garis panjang, tetapi dapat juga terpatah-terpatah dalam bentuk garis-garis pendek. Kadangkala setelah pengerjaan penarikan garis –garis pendek selesai dalam peta akan terlihat adanya zona atau trend atau arah yang hampir sama dengan garid-garis pendek ini.
2. Mempertegas bis adengan jalan mewarnai , sungai-sungai yang menbgalir pada peta . akan sangat penting untuk melihat pola aliran sungai ( daalm satu peta mungkin terdapat lebih dari satu pola aliransungai ). Pola aliran sungai merupakan pencerminan keadaan struktur yang mempengaruhi daerah tersebut.
3. Mengelompokkan pola kerapatan kontur sejenis, dapat dilakukan secara kualitatif, yaitu dengan melihat secara visual terhadap kerapatan yang ada, atau secara kuantitatif dengan menghitung persen lereng dari seluruh peta. Persen lereng adalah persentase perbandingan beda tinggi suatu lereng terhadpa panjang lerengnya sendiri.
Banyak pengelompokan kelas lereng yang telah dilakuakn, misalnya oleh mabbery, (1972 ) untuk keperluan lingkungan binaan, Desaunettes ( 1977 ) untuk pengembangan pertanian, ITC ( 1985 ) yang bersifat lebih umum dan melihat proses-proses yang biasa terjadi pada kelas lereng tertentu ( lihat table 2. )

Tabel.2 Kelas lereng dengan sifat-sifat proses dan kondisi alamiah yang kemungkinana terjadi dari ususlan warna untuk peta relief secara umum ( disadur dan disederhanakan oleh Van Zuidam,1985 ).



Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam Interpretasi geomorfologi dari peta topografi terbatas pada interepetasi relief ( berdasarkan perbedaaan beda tinggi ), yang secara garis besarnya terbagi atas morfologi Pedataran, Perbukitan, dan pegunungan
Secara umum klasifikasi bentang alam beradasarkan interepetasi peta topografi antara lain :
a. Perbukitan dicirikan oleh garis kontur yang rapat dengan ketinggian semakin besar ? menutup semakin kecil. Pola ini juga dapat menunjukkkan morfologi pegunungan oleh karena itu antara keduanya dibedakan lagi berdasarkan beda tinggi dan tirtik ketinggian yang tampak di peta.
b. Pedataran, dicirikan dengan garis kontur yang jarang dengan nilai yang semakin kecil.
c. Fluvial, biasanya terdapat pada daerah sekitar aliran sungai.
d. Marne/laut.

Adapun membahas aspek genetic ( proses pembentukan ) suatu bentang alam, haruslah didukung oleh lapangan yang akurat.

2. Interperetasi Litologi

Dengan melihat kenampakan konttur suatu daerah atau dengan kaidah kontur tersebut, maka dari sebuah peta topografi dapat ditentukan jenis litologi yang berkembang pada daerah tersebut.
Terdapat beberapa ketrentuan-ketentuan ataupun kaidah-kaidah kontur yang perlu diketahui dalam hal ini, contohnya :
a. Dalam interpretasi batuan dari peta topografi, hal penting yang perlu diamati adalah pola kuntur, aliran sungai, batuan lunak dan lepas.
b. Pola kuntur rapat menunjukkan batuan keras, dan pola kuntur jarang menunjukkan batuan yang lunak.
c. Pola kuntur yang menutup (melingkar ) diantara pola kuntur lainnya menunjukkan lebih keras dari batuan sekitarnya.
d. Aliran sungai yang membelok tiba-tiba dapat diakibatkan oleh adanya batuan keras.
e. Kerapatan sungai yang besar, menunjukkan bahwa sungai-sungai itu berada pada batuan yang lebih muda tererosi (lunak). Kerapatan sungai adalah perbandingan antara total panjang sungai-sungai yang berada pada cekungan pengaliaran terhadap luas cekungan pengaliran sungai-sungai itu sendiri.
f. Alluvial diinterpretasi dengan adanya pola kontur yang renggang serta terdapat pola aliran sungai.
g. Batugamping ditandai dengan adanya tingkat pelapukan dengan resistensi batuan yang kecil sehingga mudah tererosi berupa pelarutan. Hal ini nampak pada peta dengan kenampakan bukit-bukit sisa yang kecil yang terpisah dengan bukit lainnya, dan disekeliling bukit tersebut merupakan pendataran.
h. Batuan beku ditandai dengan garis kontur yang rapat dan teratur.
i. Batuan sediment dicirikan oleh garis kontur yang jarang atau hampir tidak ada. Kadang-kadang menggambarkan bentuk seperti melidah atau melampar khusus pada batuan sediment vulkanik.
j. Batuan metafort dicirikan oleh garis kontur yang rapat dan tidak teratur.
k. Batuan vulkanik ditandai dengan adanya pola kuntur seperti lidah yang menandakan bahwa daerah tersebut merupakan daerah lelehan lava sehinnga membentuk batuan vulkanik.

3. Interpretasi Struktur Geologi

Dalam menginterpretasi struktur geologi dan peta topografi, hal terpenting dalah pengamatan terhadap pola kontur yang menunjukkan adanya kelurusan atau pembelokan secara tiba-tiba, baik pada bola bukit maupu arah aliran sungai, bentuk-bentuk topografi yang khas, serta pola aliran sungai.

 sesar, umumnya ditunjukkan oleh adanya pola kontur rapat yang menerus lurus, kelurusan sungai dan perbukitan ataupun pergeseran, dan pembelokan perbukitan atau sungai dan pola aliran sungai parallel atau rektangulan.
 Peerlipatan, umumnya ditunjukkan oleh pola aliran sungai trellis atau paralel dan danya bentuk-bentuk dip-slope yaitu suatu kontur yang rapat dibagian depan dan merenggang makin ke arah belakang.
 Kekar, umumnya dicirikan oleh pola aliran sungai rectangular dan kelurusan-kelurusan sungai dan bukit.
 Instrusi, umumnya dicirikan oleh pola kuntur yang jarang dan dibatasi oleh pola untur yang rapat, sungai-sungai mengalir dari arah puncak dalam pola kontur yang rapat.
 Lapisan Mendatar, dicirikan oleh adanya areal dengan pola kontur yang jarang dan dibatasi oleh pola kontur yang rapat.
 Ketidakselaran Bersudut (Angular Unconformity), dicirikan oleh pola kontur rapat dan mempunyai kelurusan-kelurusan seperti pada pola perlipatan yang dibatasi secara tiba-tiba oleh pola kontur jarang yang mempunyai elevasi sama atau lebih tinggi.
 Daerah Melange,umunya dicirikan oleh pola-pola kontur melingkar berupa bukit-bukit dalm penyebaran relative luas, terdapat beberapa pergeseran bentuk-bentuk topografi kemungkinan juga terdapat beberapa kelurusan dengan pola aliran sungai rectangular atau concerted.
 Daerah Stump, umunya dicirikan oleh banyaknya pola dis-slope dan penyebarannya yang tidak menunjukkan pola pelurusan tetapi lebih berkesan acak-acakan. Pola kopntur rapat juga tidak menunjukkan kelurusan yang menerus, tetapi berkesan terpatah-patah.
 Gunungapi, dicirikan umumnya oleh bentuk kerucut atau pola aliran radial, serta kawah pada puncaknya untuk gunung api muda, sementara untuk gunungapi tua dan sudah tidak aktif dicirikan oleh pola aliran angular serta pola kontur melingkar rapat atau memanjang yang menunjukkan adanya jenjang vulkanik atau korok-korok.
 Karst, Dicirikasn oleh pola kontur melingkar yanh khas dalam penyebaran yang luas, beberapa aliran sungai seakan-akan terputus, terdapat pola-pola kontur yang menyerupai bintang segi banyak, serta pola aliran sungai multibastnal.

4. Pola Pengaliran Sungai

Pola aliran terbagi atas 2 jenis, yaitu pola dasar dan pola ubahan. Pola dasar adalah suatu pola aliran sungai yang mempunyai karakteristik yang spesifikdan dapat secara jelas dibedakan dengan bentuk pola dasar lainnya. Pola ubahan adalah bentuk aliran yang telah mengalami perubahan bentuk pola dasar yang ada.

Macam-macam pola pengaliran (drainage pattern) :
 Pola Pengaliran Rektangular
Pola pengaliran dimana anak sungainya membentuk sudut tegak lurus dengan sungai utama, sering terjadi pada daerah patahan.
 Pola Pengaliran Denritik
Bentuknya seperti seperti pohon dengan anak-anak sungai dan cabangya berarah tidak teratur.
 Pola Pengaliran Paralel
Pola yang sejajar dengan alirannya. Dijumpai pada daerah yang lerengnya mempunyai kemiringan yang nyata, dan berkembang pada batuan yang bertekstur halus.
 Pola Pengaliran Concorted
Di mana arah pengalirannya berbalik arah. Pola ini terjadi pada daerah patahan
 Pola Pengaliran Trellis
Berbentuk seperti daun dengan anak-anak sungai sejajar. Sungai utamanya biasanya memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan, sejajar dengan bentuk-bemtuk bentang alam hasil timbunan angina atau es. Pola ini biasanya pada daerah patahan, lipatan.

 Pola Pengaliran Radial
Dimana arah pengalirannya menyebar ke segala arah dari suatu pusat berkembang pada daerah berstruktur kubah muda, pada kerucut gunung api pada bukit berbentuk tertentu.
• Pola Pengaliran Angular
Pola ini sering dijumpai pada daerah kubah berstadia dewasa.
• Pola Pengaliran multibasinal
Pola ini tidak sempurna, kadang nampak dipermukaan bumi, kadang tidak nampak. Dikenal juga sebagai sungai bawah tanah. Pola ini dijumpai pada daerah karst atau batugamping.

III. Blok Diagram

Blok diagram merupakan sutu bentuk penyajian tiga dimensi dari sutu potongan bagian kulit bumi yang umumnya menyerupai bentuk balok. Pada bagian atas blok diagram ditunjukkan bentuk relief dan unsure-unsur yang ada di permukaan, sedangkan pada bagian samping ditunjukkan material penyusun dari kulit bumi. Dalam pembuatan blok diagram dapat digunakan sistem proyeksi isometric dan gambar pespektif.
Penggambaran dengan menggunakan proyeksi isommetris akan diperoleh bentukl balok dengan ukuran seragam dari seluruh sisi yang ditampilkan ( bagian blok diagram yang disajikan), Sedangkan dengan menggunakan penggambaran perspektif akan diperoleh ukuran yang tidak seragam tergantung titik pandang yang digunakan.
Dalam praktikan ini akan diguanakan sistem proyeksi isometric untuk menggambarkan bentuk relief dari suatu daerah tanpa memperhatikan unsure-unsur penyusun kulit bumi di bawah permukaan, sehingga lebih menonjolkan pada cara penggambaran pada tiga dimensi suatu daerah berdasarkan peta topografi.

Tahapan-tahapan dalam pemakaian proyeksi isometric untuk pembuatan suatu blok diagram :
a. Peta topografi di grid sesuai ukuran yang diinginkan dengan memperhatikan aspek kemudahan dalam pemindahan elemen topografi ke bentuk grid proyeksi isometric.
b. Kerangka grid untuk proyeksi isometric dapat dibuat menurut sudut yang diinginkan dengan memperhatikan aspek penonjolan relief.
c. Peta topografi dipindahkan ke dalam bentuk kerangka grid proyeksi isometric.
d. Menggambar ulang garis-garis kontur dari grid proyeksi isometric pada kertas transparan dengan mengikuti tahapan-tahapan pembuatan seperti pada gambar terlampir.

IV. Garis Sayatan ( Cros Section)

Garis sayatan atau disebut juga dengan sayatan topografi adalah suatu irisan tegak dari permukaan bumi yang dibuat melalui suatu garis lurus.
Sayatan topografi ini berguna untuk memperlihatkan bentuk-bentuk dari bentang alam, seperti bentuk bukit, bentuk lembah dan kemiringan lereng. Hal ini ditunjukkan oleh garis bagian atas sayatan (gambar 3). Untuk memperlihatkan keadaan yang sesuai dengan keadaan sebenarnya maka sakala horizontal dibuat sama dengan skala vertical. Tetapi sering pula skala vertical diambil beberapa kali lebih besar dari skala horizontal. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan perubahan yang nyata dari bentuk-bentuk roman muka bumi.
Sayatan ini lebih mudaj dibuat dengan menggunakan kertas milimeter / grafik.

Tahap-tahap pembuatan sayatan topografi :
- tentukan arah dan letak garis sayatan, dimana melalui garis ini sayatan akan dibuat ( gambar1). Penentuan arah dan letak garis sayatan dapat berbeda-beda sesuai dengan aspek yang ingin ditampilkan, misalnya aspek geomorfologi, litologi, struktur geologi ataupun peta topografi dasar itu sendiri.
- Letakkan kertas grafik di atas garis sayatan itu (garis x y )
- Plot titik-titik potong garis-garis kontur dengan garis sayatan (garis X Y) pada kertas grafik (gambar 2).
- Tentukan besarnya skala horisontal dan skala mendatar. Umumnya diusahakan perbandingan antara kedua skala tersebut adalah 1 : 1 , Karena perbandingan ini menampakkan keadaan yang sebanarnya di lapangan untuk mengetahui besarnya kenaikan vertiakal ( KV) di penampang sayatan, maka digunakan rumus :
KV – IK / SP , dimana IK – Interval Kontur dan SP – Skal Peta
- Dengan pengetahuan garis vertical sebagai penunjuk,m masing-masing titik potong tersebut disesuaikan dengan ketinggian ( gambar 3 )
- Hubungan titik-titik tersebut ( gambar 3)
- Beri tanda pada titik-titik yang diperlukan pada sepanjang garis sayatan
- beri nama sayatan tersebut.
Dalam pembuatan sayatan topografi ini perbesaran sakala horizontal dan skala vertical harus dicantumkan. Hal ini untuk menghindari salah duga terhadap sayatan yang digambarkan. Sayatan topografi tersebut yang membentuk profil topografi akan mememperagakan konfigurasi dari permukaan di sepanjang suatu penampang vertical kerak bumi. Fungsi utama dari profil topografi ini adalah untuk memvisualisasikan karakter muka bumi. Untuk mencegah distorsi atau kesalahan dalam perhitungan ketebalan dalam skala vertical, maka sebaiknya profil topografi dibuata dengan menggunakan skala vertical yang sama dengan skala horisontalnya. Dalam pembuatan profil topografi dikenal beberapa istilah, yaitu :
a. Garis profil ( topographic line), adalah garis perpotongan antara perpotongan permukaan bumi dengan suatu bidang vertical.
b. Garis dasar ( base line), letaknya mendatar dibawah garis profil. Tinggi “base line” seringkali dipilih nol, yaitu tinggi permukaan laut, sedangkan jarak mendatar sesuai dengan jarak horizontal yang diukur pada peta topografi.
c. Batas tepi (end line), adalah garis tegak lurus “ base line” yangmembatasi sisi kiri dan kanan profil. Pada batas tepi tertera angka ketinggian sesuai dengan interval kontur.

V. PENOMORAN PETA

Sistem pembagian nomor peta disebut juga dengan “Quadrangle system” di Indonesia sistem quadrangle ini disesuaikan dengan sistem internasional, yang dikelurkan oleh Badan Koordinasi Survey dan pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL), pada tahun 1992 bekerja sama dengan sponsor resmi dalam program pemetaan dasar nasional telah menerbitkan peta-peta topografi baru yang diberi nama peta rupa bumi inndonesia dengan skala 1 : 50.000 dan baru-baru ini telah diterbitkan pula peta Rupa Bumi dengan skal 1 : 25.000. Hal-hal yang berhubungan dengan penomoran lembar bumi tersebut adalah :
1. Garis Bujur / Meridian atau Meridian Bujur titik 0 derajat terletak di Grenwich Inggris
2. Garis Lintang menggunakan garis Internasional
3. Sistem grid yang digunakan adalah sistem grid Geografi dan sistem Grid UTM ( Universal Transverse Mercator).
4. Datum Horisontal = Datum Indonesia tahun 1974
5. Datum vertical diukur di daerah Mamuju, Sulawesi
6. Satuan tinggi peta daalah meter
7. Interval Kontur 25 m
8. Lembar diberi nama sesuai dengan daerah yang mudah terlihat pada daerah tersebut. Misalnya lembar Pangkajene memasukkan kota Pangkep pada peta tersebut.
9. Pada peta indeks terdapat lembar pada peta besar, yang diberi nama khusus penciri lembar peta tersebut dengan nomor teretntu yang mencakupi bebrapa nomor lembar pada peta kecil. Contoh pada Indeks, lembar peta besar Ujung pandang bernomor 2010 yang mencakupi 10 lembar peta kecil semuanya berskala 1 : 50.000 .Sub lembar yang lebih kecil juga mempunyai nama lembar dengan nomor tertentu. Contoh lembar sapaya berada dalam lembar besar Ujungpandang dengan nomor 2010 – 61. Luas suatu daerah besar berdasarkan Lintang Bujur 1,5 derajat x 1 derajat (90 derajat x 60 derajat) berupa persegi panjang.
10. Suatu sub Lembar peta kecil mempunyai luas 27,75 x 27,75 km, dengan catatan bahwa setiap lembar mempunyai Grid Geografi sebesar 15 derajat x 15 derajat dan tiap menit berjarak 3,7 cm pada peta.
11. Penentuan lembar peta suatu daerah, haruslah dengan melihat peta indeks Peta Rupa Bumi Indonesia yang dikelurkan oleh Bakosusrtanal tahun 1993.
12. Penetuan titik koordinat Geografi
Contoh : Daerah Bili-bili pada lembar sapaya nomor 2010 – 61. Garis Bujur pertama sebelah kiri terbaca 119 derajat 34 derajat. Perkiraan dari selang satu menit sampai ke titik 32 derajat . Garis lintang pertama sebalah atas titik tersebut 05 derajat = 16 derajat. Perkiraan dari selang satu menit sampai ke titik 50 derajat . sehingga titik koordinat geografinya:
= 119 Derajat 34 derajat 15 derajat Bujur Timur
= 5 derajat 17 derajat 05 derajat Lintang selatan
Penentuan titik koordinat UTM
Contoh : Bili-Bili Timur Utara
Grid sebelah bawah dari titik tersebut 781
Perkiraan dari garis skala Grid 9
Gris sebelah bawah dari titik tersebut terbaca 9415
Perkiraan dari sutu garis skala grid ke titik 3
8100 96153
Sehingga koordinasinya adalah T= 784900 m
U= 9615300 m
Sebagai pembatasan pembacaan di peta ialah : 100 m
Zona UTM = 50
13. Peta Rupa Bumi ini dilengkapi dengan informasi pembagian daerah administrasi walaupun hanya sementara.
14. Instansi yang mengeluarkan Peta Rupa Bumi ini adalah :
1. Baksurtanal
2. Bappeda Tingkat I Sulawesi Selatan c.q Kepala Proyek Evaluasi dan perencanaan sumber Dana Kelautan ( MREP) Kantor Gubernur Sul-Sel
3. Dinas pertambangan Tk. I Sul-Sel
4. Kantor Wilayah Pertambangan dan Energi Sul-Sel
5. Badan Pertanahan Nasional Sul-sel.

Dalam sistem penomoran peta menggunakan ketentuan di bawah ini :
• Peta Rupa Bumi berskala I : 1. 000. 000 menggunakan 4 digit
• Peta Rupa Bumi berskala I : 1.00.000 menggunakan 5 digit
• Peta Rupa Bumi berskala I : 50.000 Menggunakan 6 digit
• Peta Rupa Bumi berskala I : 25.000 menggunakan 7 digit


DAFTAR PUSTAKA


Asri Jaya HS, DKK,2002. Penuntun Geologi Lapangan, Jurusan Teknik
                    Geologi UNHAS ( UNPUBL), Hal 41- 47.

Tim Asisten Geomorfologi, 2001 – 2002, Kumpulan sap Praktikum 
                   Geomorfologi dan Geologi Foto. Jurusan Teknik Geologi
                   UNHAS ( Unpubl ).

Senin, 28 Desember 2009

EMAS

Emas merupakan mineral yang tak lazim kita dengar di telinga kita, terkadang muncul beberapa pertanyaan bagi kita, apa sih emas itu, bagaimana dia terbentuk dan bagaimana cara mengolah mineral ini, mari kita jawab satu per satu.
Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au (bahasa Latin: 'aurum') dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile". Emas tidak bereaksi dengan zat kimia lainnya tapi terserang oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat di nugget emas atau serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage. Kode ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000 derajat celcius (coba dibayangkan kalau kita kena panas sampai 1000 oC mmm ampuun)
Tabel Periodik unsur Kimia teman – teman mungkin masih ingat ketika SMA dulu di pelajaran kimia yang banyak pake singkatan – singkatan untuk memudahkan kita menghapalnya (kok kayak curhat masa SMA dulu),


Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%



Gambar 1. Endapan Emas

Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal, sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer). Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu:

1. Endapan primer
2. Endapan plaser.

Emas digunakan sebagai standar keuangan di banyak negara dan juga digunakan sebagai perhiasan, dan elektronik. Penggunaan emas dalam bidang moneter dan keuangan berdasarkan nilai moneter absolut dari emas itu sendiri terhadap berbagai mata uang di seluruh dunia, meskipun secara resmi di bursa komoditas dunia, harga emas dicantumkan dalam mata uang dolar Amerika. Bentuk penggunaan emas dalam bidang moneter lazimnya berupa bulion atau batangan emas dalam berbagai satuan berat gram sampai kilogram.
Nah kalau bicara mengenai emas kita juga harus tahu gimana sih cara ekstraksinya ini dia ulasan mengenai ekstraksi emas

Ekstraksi Emas

Amalgamasi
Amalgamasi adalah proses penyelaputan partikel emas oleh air raksa dan membentuk amalgam (Au – Hg). Amalgam masih merupakan proses ekstraksi emas yang paling sederhana dan murah, akan tetapi proses efektif untuk bijih emas yang berkadar tinggi dan mempunyai ukuran butir kasar (> 74 mikron) dan dalam membentuk emas murni yang bebas (free native gold).
Proses amalgamasi merupakan proses kimia fisika, apabila amalgamnya dipanaskan, maka akan terurai menjadi elemen-elemen yaitu air raksa dan bullion emas. Amalgam dapat terurai dengan pemanasan di dalam sebuah retort, air raksanya akan menguap dan dapat diperoleh kembali dari kondensasi uap air raksa tersebut. Sementara Au-Ag tetap tertinggal di dalam retort sebagai logam.

Sianidasi

Proses Sianidasi terdiri dari dua tahap penting, yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari larutannya. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses cyanidasi adalah NaCN, KCN, Ca(CN)2, atau campuran ketiganya. Pelarut yang paling sering digunakan adalah NaCN, karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya. Secara umum reaksi pelarutan Au dan Ag adalah sebagai berikut:

4Au + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Au(CN)2- + 4OH-
4Ag + 8CN- + O2 + 2 H2O = 4Ag(CN)2- + 4OH-

Pada tahap kedua yakni pemisahan logam emas dari larutannya dilakukan dengan pengendapan dengan menggunakan serbuk Zn (Zinc precipitation). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

2 Zn + 2 NaAu(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Au + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2
2 Zn + 2 NaAg(CN)2 + 4 NaCN +2 H2O = 2 Ag + 2 NaOH + 2 Na2Zn(CN)4 + H2

Penggunaan serbuk Zn merupakan salah satu cara yang efektif untuk larutan yang mengandung konsentrasi emas kecil. Serbuk Zn yang ditambahkan kedalam larutan akan mengendapkan logam emas dan perak. Prinsip pengendapan ini mendasarkan deret Clenel, yang disusun berdasarkan perbedaan urutan aktivitas elektro kimia dari logam-logam dalam larutan cyanide, yaitu Mg, Al, Zn, Cu, Au, Ag, Hg, Pb, Fe, Pt. setiap logam yang berada disebelah kiri dari ikatan kompleks sianidanya dapat mengendapkan logam yang digantikannya. Jadi sebenarnya tidak hanya Zn yang dapat mendesak Au dan Ag, tetapi Cu maupun Al dapat juga dipakai, tetapi karena harganya lebih mahal maka lebih baik menggunakan Zn. Proses pengambilan emas-perak dari larutan kaya dengan menggunakan serbuk Zn ini disebut “Proses Merill Crowe”.


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Emas

Minggu, 22 November 2009

BATUAN METAMORF

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari hasil proses metamofisme, dimana terjadi perubahan (alterasi), physical (struktur, tekstur) dan chemical (mineralogical) dari suatu batuan, pada temperatur dan tekanan tinggi didalam kerak bumi.
Proses metamorfisme merupakan proses isokimia dimana tidak terjadi penambahan unsur-unsur kimia dan berjalan tanpa melalui fase cair. Akibat proses metamorfisme adalah batuan keluar dari keseimbangan lama keseimbangan yang baru (kondisi) yang baru).

Faktor-faktor yang berperan dalam prosers metamorfisme yaitu :
- Temperatur
- Tekanan
- Cairan panas / aktivitas larutan kimia

Pada kondisi metamorfisme temperatur berkisar antara 2000C – 13500C dan tekanan 1 – 10.000 bar

Ditinjau dari perubahan tekanan (P) dan temperatur (T) maka dikenal :
a. Progresive metamorfisme : yaitu perubahan dari P & T rendah ke P & T yang tinggi.
b. Retrogresive metamorfisme : yaitu perubahan dari P & T tinggi ke P & T yang rendah.

Kondisi fisik yang mengontrol metamorfisme atau yang mempengaruhi rekristalisasi dan tekstur, adalah ;
1. Tekanan, didapatkan dari letak kedalamannya dalam bumi atau karena gerakan-gerakan dan atau gesekan.
- Tekanan hidrostatik
- Tekanan searah (stress), disini dikenal dua kelompok mineral, yaitu :
a. Stress mineral : yaitu mineral-mineral yang tahan terhadap tekanan, contoh : staurolit, kianit.
b. Anti stress mineral : yaitu mineral – mineral yang jarang dijumpai pada batuan yang mengalami stress. Contoh : olivin, andalusit.

2. Temperatur, umumnya perubahan temperatur jauh lebih efektif daripada perubahan tekanan dalam hal pengaruhnya terhadap perubahan mineralogi. Katalisator : berfungsi mempercepat reaksi, terutama pada metamorfisme bertemeratur rendah.
Ada dua hal yang mempengaruhi reaksi, yaitu :
a. Adanya larutan-larutan kimia yang berjalan antara ruang butiran.
b. Deformasi batuan, dimana batuan pecah-pecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga memudahkan kontak antara larutan kimia dengan fragmen-fragmen.
c. Fulida
d. Komposisi

Beberapa ahli memisahkan atau membagi tipe-tipe metamorfisme, namun secara umum dapat disebutkan sbb:

+ Metamorfisme Kontak

Metamorfisme ini biasanya disebut juga metamorfisme termal. Faktor yang sangat berperan adalah panas, sedang tekanan relatif rendah, dimana proses yang terjadi adalah rekristalisasi, reaksi diantara mineral pembentuk atau mineral dengan larutan, disini ada pergantian dan perubahan material.

+ Metamorfisme Regional

Terjadi akibat perubahan P & T yangsangat tinggi, bekerja bersama-sama ditempat yang dalam dan luas didalam kerak bumi seperti pada geosinklin yang mengalami sedimentasi kemudian terlipat.

+ Metamorfisme Kataklastik

Metamorfisme ini, biasa disebut kinematik atau metamorfisme dislokasi. Metamorfisme initerjadiakibat penghancuran batuan oleh sesar dsb, kemudian diikuti dengan reksristalisasi.

FASIES METAMORFISME

Fasies metamorfisme adalah merupakan kumpulan batuan metamorf yang terbentuk pada kondisi temperatur dan tekanan yang sama. Ini dianggap variasi mineralogi pengontrol fasies yang berasal dari variasi komposisi mineralogi dari batuan induk. Juga bisa dianggap sebagai hasil dari proses isokimia metamorfisme. Dimana proses isokimia merupakan proses yang terjadi tanpa adanya penambahan unsur-unsur kimia. dalam hal ini komposisi kimianya tetap.
Fasies metamorfisme merupakan grup dari beberapa mineral dalam komposisi batuan metamorf, yang khas untuk suatu bidang tertentu dalam tekanan - suhu ruang. Rocks which contain certain minerals can therefore be linked to certain tectonic settings. Batu yang mengandung mineral tertentu sehingga dapat dihubungkan dengan beberapa tektonik pengaturan.
Penentuan fasies metamorf dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menentukan mineral penyusun batuan atau dengan menggunakan reaksi metamorf yang dapat diperoleh dari reaksi-reaksi metamorf pada kondisi dan temperatur tertentu dari batuan metamorf


Zeolite fasies (LP / LT)
The zeolit fasies adalah fasies metamorf dengan terendah grade metamorf. Pada suhu dan tekanan rendah proses dalam batu disebut diagenesis. The fasies ini dinamai zeolit, sangat terhidrasi tectosilicates. Dapat memiliki assemblages mineral berikut:

Dalam meta-batuan dan greywackes:
• heulandite + analcime + kuarsa ± mineral lempung
• laumontite + albite + kuarsa ± klorit

Dalam meta pelites:
• Muscovite + klorit + + kuarsa albite

Prehnite-pumpellyite-fasies (LP / LT)

The prehnite-pumpellyite fasies adalah sedikit lebih tinggi tekanan dan temperatur daripada fasies zeolit. Hal ini dinamai dari mineral prehnite (a Ca - Al - phyllosilicate) dan pumpellyite (a sorosilicate). Prehnite-pumpellyite yang dicirikan oleh mineral assemblages:
Dalam meta-batuan dan greywackes:
• prehnite + pumpellyite + klorit + + kuarsa albite
• pumpellyite + klorit + epidote + + kuarsa albite
• pumpellyite + epidote + stilpnomelane + albite Muscovite + + kuarsa
Dalam metapelites:
• Muscovite + klorit + + kuarsa albite

Greenschist fasies (MP / MT)

Greenschist fasies menengah berada pada tekanan dan temperatur. The fasies ini dinamai khas schistose tekstur dari batu dan warna hijau mineral klorit, epidote dan actinolite.

Karakteristik mineral assemblages adalah:

Dalam metabasites:
• albite + klorit + epidote ± actinolite, kuarsa

Dalam metagreywackes:
• albite + kuarsa + epidote + Muscovite ± stilpnomelane
Dalam metapelites:
• Muscovite + klorit + + kuarsa albite
• Chloritoid + klorit + + kuarsa ± Muscovite paragonite
• Biotite + Muscovite + klorit + + kuarsa + albite Mn - garnet (spessartine)

Dalam Si-kaya dolostones:
• dolomit + kuarsa

Amphibolite-fasies (MP / MT-HT)

The amphibolite fasies adalah fasies tekanan menengah dan rata-rata suhu tinggi. Hal ini dinamai amphiboles yang terbentuk dalam keadaan seperti itu. Memiliki assemblages mineral berikut:

Dalam metabasites:
• hornblende + plagioclase ± epidote, garnet, cummingtonite, diopside, biotite
Dalam metapelites:
• biotite Muscovite + + kuarsa + plagioclase ± garnet, staurolite, kyanite / sillimanite
Dalam Si-dolostones:
• dolomit + kalsit + tremolite ± bedak (tekanan dan temperatur yang lebih rendah)
• dolomit + kalsit + diopside ± forsterit (tekanan dan temperatur yang lebih tinggi)

Granulite fasies (MP / HT)

The granulite fasies adalah nilai tertinggi di metamorphism tekanan menengah. Kedalaman di mana hal ini terjadi tidak konstan. Karakteristik mineral fasies ini dan pyroxene-hornblende fasies adalah orthopyroxene. Granulite fasies yang ditandai oleh assemblages mineral berikut:

Dalam metabasites:
• orthopyroxene + clinopyroxene + hornblende + plagioclase ± biotite
• orthopyroxene + plagioclase ± clinopyroxene + kuarsa
• clinopyroxene + plagioclase + garnet ± orthopyroxene (tekanan yang lebih tinggi)

Dalam metapelites:
• garnet + kordierit + sillimanite + K-felspar + kuarsa ± biotite
• sapphirine + orthopyroxene + K-felspar + kuarsa ± osumilite (pada temperatur sangat tinggi)

Blueschist fasies (MP-HP/LT)

The blueschist fasies berada pada suhu relatif rendah, tetapi tekanan tinggi, seperti terjadi pada batuan di zona subduksi. The fasies ini dinamai menurut karakter schistose bebatuan dan mineral biru glaucophane dan lawsonite. Blueschist fasies yang membentuk assemblages mineral berikut:

Dalam metabasites:
• glaucophane + lawsonite + klorit + sphene ± epidote ± phengite ± paragonite, omphacite
Dalam metagreywackes:
• kuarsa + jadeite + lawsonite ± phengite, glaucophane, klorit
Dalam metapelites:
• phengite + paragonite + carpholite + klorit + kuarsa

Dalam karbonat-batu (kelereng):
• aragonite

Eclogite fasies (HP / HT)

The eclogite fasies adalah fasies pada tekanan tinggi dan suhu tinggi. Hal ini dinamai untuk metabasic batu eclogite. Fasies yang telah eclogite mineral assemblages:

Dalam metabasites:
• omphacite + garnet ± kyanite, kuarsa, hornblende, zoisite
Dalam metagranodiorite:
• kuarsa + phengite + jadeite / omphacite + garnet
Dalam metapelites:
• phengite + garnet + kyanite + chloritoid (Mg-kaya) + kuarsa
• phengite + kyanite + bedak + kuarsa ± jadeite

Albite-epidote-hornfels fasies (LP / LT-MT)

The albite-epidote-hornfels fasies adalah fasies pada tekanan rendah dan suhu relatif rendah. Ini adalah nama untuk kedua mineral albite dan epidote, meskipun mereka adalah lebih stabil dalam fasies. Hornfels adalah sebuah batu terbentuk di kontak metamorphism, sebuah proses yang khas melibatkan suhu tinggi tetapi tekanan rendah / kedalaman.

Fasies ini dicirikan oleh mineral berikut:
Dalam metabasites:
• albite + epidote + actinolite + klorit + kuarsa
Dalam metapelites:
• Muscovite + biotite + klorit + kuarsa

HORNBLENDE HORNFELS FASIES(LP / MT)

hornblende-hornfels fasies adalah fasies dengan tekanan rendah yang sama tapi sedikit lebih tinggi suhu sebagai albite-epidote fasies. Walaupun dinamai mineral hornblende, munculnya mineral yang tidak dibatasi fasies ini. Yang hornblende-hornfels fasies memiliki assemblages mineral berikut:

Dalam metabasites:
• hornblende + plagioclase ± diopside, anthophyllite / cummingtonite, kuarsa
Dalam metapelites:
• Muscovite + biotite + andalusite + + kuarsa + kordierit plagioclase
Dalam K 2 O-miskin atau meta-sedimen batuan:
• kordierit + anthophyllite + biotite + + kuarsa plagioclase
Dalam Si-kaya dolostones:
• dolomit + kalsit + tremolite ± bedak

PYROXEN HORNFELS FASIES(LP / MT-HT)

Pyroxene-hornfels fasies adalah fasies metamorf kontak dengan suhu tertinggi dan adalah, seperti granulite fasies, dicirikan oleh mineral orthopyroxene. Hal ini ditandai oleh assemblages mineral berikut:
Dalam metabasites:
• orthopyroxene + clinopyroxene + plagioclase ± olivin atau kuarsa
Dalam metapelites:
• kordierit + kuarsa + sillimanite + K-feldspar (orthoclase) biotite ± ± garnet
(Jika suhu di bawah 750 akan ada andalusite bukan sillimanite)
• kordierit + orthopyroxene + plagioclase ± garnet, spinel
Dalam batuan karbonat:
• kalsit + forsterit ± diopside, periclase
• diopside + grossular + Wollastonite ± vesuvianite

SANIDINITE FASIES(LP / HT)

The sanidinite fasies adalah fasies langka yang sangat tinggi suhu dan tekanan rendah. Itu hanya bisa dicapai di bawah metamorf kontak tertentu-keadaan. Karena suhu tinggi pengalaman batu mencair parsial dan kaca terbentuk. Fasies ini diberi nama untuk mineral sanidine. Hal ini ditandai oleh assemblages mineral berikut:
Dalam metapelites:
• kordierit + mullite + sanidine + tridimit (sering diubah untuk kuarsa) + kaca
Dalam karbonat:
• Wollastonite + anorthite + diopside
• monticellite + melilite ± kalsit, diopside (juga tilleyite, spurrite, merwinite, larnite dan langka lainnya Ca - atau Ca - Mg-silikat.


DAFTAR PUSTAKA

http://en.wikipedia.org/wiki/Metamorphism

http://translate.googleusercontent.com/translate_c?hl=en&ie=UTF&sl=en&tl=id&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Metamorphic_facies&prev=_t&rurl=translate.google.com&usg=ALkJrhitmjn1_3rFXGLHuKteK4znzQb60g

Waters, D, 1990, Fasies Metamorfisme, ......

Sabtu, 31 Oktober 2009

Fieldtrip Geologi Indonesia

Sory fren baru OL lagi jadi baru di update, nih cerita mungkin sempat jadi bahan pembicaraan beberapa minggu kemaren, kalo ada yang bilang fieldtrip itu kurang menyenangkan saya pikir kita perlu mencontohi pendahulu2 kita di bidang ini lihat saja Kakek Rab Sukamto aja masih rindu ama lapangan di Mangilu. Apalagi kita yang masih muda 2 (ehm ehm masihmuda jie tman)
klo bercerita tentang pengalaman field trip, nih field trip nggak kala seru dengan yang lain coba aja Tanya friend2 gue di Blok R 8 Hamzi. Mulai dari keberangkatan bus kita betul 2 seru sampe – sampe ada yang lengkap dengan tambahan tour ke Bantimala (istilah lainya salah jalur)



Foto 1. Anak2 Geologi Lagi Sibuk2nya Mengambil data geologi dengan metode Measuring Section

Pada umumnya batuan – batuan yang kita jumpai di field trip ini sangat bervariasi baik itu batuan metamorf High Pressure hingga Low Pressure, Batuan Sedimen laut dalam, betul – betul kompleks.



Lihat aja batuan metamorf Low Pressure berupa Green Schist dengan beberapa mineral penciri seperti Chlorite, Glaucopan, Muscovite dengan struktur Foliasi (Schisstose) tekstur Lepidoblastik.
Setelah anak2 geologi mengambil data pada stasiun 1 kita pun berjalan relative ke arah barat laut kita menemukan batuan high pressure dengan ditemukannya beberapa mineral HP seperti Garnet.



Berbicara mengenai Garnet kita telah ketahui mineral garnet ((Ca, Na) Mg Al SiO12 ) merupakan mineral Logam yang terdiri atas 5 dimana mineral Garnet yang kaya akan unsure Mg disebut mineral Pyrope, Mineral garnet yang kaya akan unsure Fe disebut mineral Almandite, mineral garnet yang kaya akan unsure Ca disebut mineral Grosular sedangkan jika kaya akan unsure Mn disebut mineral Spesartine dan jika kaya akan unsure Na disebut Andradite.



Kenampakan proses Struktur berupa sesar naik dimana Green Schist naik ke permukaan dimana Baturijang menindih Batuan Metamorf (Green Schist).

Berikut Video Kompleks Tektonik Bantimala :

Minggu, 18 Oktober 2009

Minyak Bumi (Cruide Oil)

Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang kemudian, setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll.

Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawaan hidrogen dan karbon.

Empat alkana teringan- CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10 (butana) - semuanya adalah gas yang mendidih pada -161.6 °C, -88.6 °C, -42 °C, dan -0.5 °C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1° F).

Rantai dalam wilayah C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih. Senyawaan tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean), dan produk cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur bersama dan digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari rantai di wilayah C10

Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat (termasuk Vaseline®) berada di antara C16 sampai ke C20.

Rantai di atas C20 berwujud padat, dimulai dari "lilin, kemudian tar, dan bitumen aspal.

Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer fraksi distilasi dalam derajat Celcius:

* minyak eter: 40 - 70 °C (digunakan sebagai pelarut)
* minyak ringan: 60 - 100 °C (bahan bakar mobil)
* minyak berat: 100 - 150 °C (bahan bakar mobil)
* minyak tanah ringan: 120 - 150 °C (pelarut dan bahan bakar untuk rumah tangga)
* kerosene: 150 - 300 °C (bahan bakar mesin jet)
* minyak gas: 250 - 350 °C (minyak diesel/pemanas)
* minyak pelumas: > 300 °C (minyak mesin)
* sisanya: tar, aspal, bahan bakar residu

Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak adalah zat abiotik, yang berarti zat ini tidak berasal dari fosil tetapi berasal dari zat anorganik yang dihasilkan secara alami dalam perut bumi. Namun, pandangan ini diragukan dalam lingkungan ilmiah.
[sunting] Negara penghasil minyak bumi terbesar

(Diurutkan berdasar jumlah produksi tahun 2006) dan total produksi1nya dalam juta barrel per hari

1. Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi - 10,665
2. Flag of Russia.svg Rusia - 9,667
3. Flag of the United States.svg Amerika Serikat2 - 8,331
4. Flag of Iran.svg Iran - 4,148
5. Flag of the People's Republic of China.svg Republik Rakyat Cina - 3,858
6. Flag of Mexico.svg Meksiko - 3,707
7. Flag of Canada.svg Kanada - 3,288
8. Flag of the United Arab Emirates.svg Uni Emirat Arab - 3,0
9. Flag of Venezuela.svg Venezuela - 2,803
10. Flag of Norway.svg Norwegia - 2,786
11. Flag of Kuwait.svg Kuwait - 2,675
12. Flag of Nigeria.svg Nigeria - 2,443
13. Flag of Brazil.svg Brasil - 2,166
14. Flag of Algeria.svg Aljazair - 2,122
15. Flag of Iraq.svg Irak - 2,008



(Diurutkan berdasar jumlah yang diekspor di 2006) dan total ekspor dalam juta barrel per hari

* Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi - 8,651
* Flag of Russia.svg Rusia - 6,565
* Flag of Norway.svg Norwegia - 2,524
* Flag of Iran.svg Iran - 2,519
* Flag of the United Arab Emirates.svg Uni Emirat Arab - 2,515
* Flag of Venezuela.svg Venezuela - 2,203
* Flag of Kuwait.svg Kuwait - 2,150
* Flag of Nigeria.svg Nigeria - 2,146
* Flag of Algeria.svg Aljazair - 1,847
* Flag of Mexico.svg Meksiko - 1,676
* Flag of Libya.svg Libya - 1,525
* Flag of Iraq.svg Irak - 1,438
* Flag of Angola.svg Angola - 1,365
* Flag of Kazakhstan.svg Kazakhstan - 1,114
* Flag of Canada.svg Kanada - 1,071

Catatan:
1 Total produksi termasuk minyak mentah, gas alam, kondesat dan cairan lainnya.
2 Flag of the United States.svg Amerika Serikat mengkonsumsi seluruh minyak yang diproduksinya.
3 Yang dicetak tebal adalah negara-negara anggota OPEC.

Sumber: Statistika Energi dari pemerintah AS

Rabu, 12 Agustus 2009

Zeolit




Kenampakan Zeolite yang berada di Konawe Utara yang keberadaannya sekitar mata air panas. bukti potensi Geothermal Sulawesi yang sangat potensial

Minggu, 12 Juli 2009

Jika Allah Menarik Perhatian Kita

Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Salam sejahtera untuk kita semua

Sahabat...
Dikisahkan, seorang mandor bangunan sedang bekerja di sebuah gedung bertingkat.
Suatu ketika ia ingin menyampaikan pesan penting kepada tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya.
Mandor ini berteriak-teriak memanggil seorang tukang bangunan yang sedang bekerja di lantai bawahnya,
agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan.
Karena suara mesin-mesin dan pekerjaan yang bising,
tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya tidak dapat mendengar panggilan dari sang Mandor.
Meskipun sudah berusaha berteriak lebih keras lagi,
usaha sang mandor tetaplah sia-sia saja.

Akhirnya untuk menarik perhatian,
mandor ini mempunyai ide melemparkan koin uang logam yang ada di kantong celananya ke depan seorang tukang yang sedang bekerja di lantai bawahnya.
Tukang yang bekerja dibawahnya begitu melihat koin uang di depannya,
berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu,
lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
Beberapa kali mandor itu mencoba melemparkan uang logam,
tetapi tetap tidak berhasil membuat pekerja yang ada di bawahnya untuk mau mendongak keatas.

Tiba-tiba mandor itu mendapatkan ide lain,
ia kemudian mengambil batu kecil yang ada di depannya dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada dibawahnya.
Karena merasa sakit kejatuhan batu,
pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu.
Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja dilantai bawahnya.

Sahabat yang baik, untuk menarik perhatian kita manusia sebagai hambaNya,
Allah seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan,
maupun kadangkala dengan pengalaman-pengalam an yang menyakitkan.
Allah seringkali menjatuhkan "koin uang" atau memberikan kemudahan rejeki yang berlimpah kepada kita manusia,
agar mau mendongak keatas,
mengingatNya,
menyembah-Nya,
mengakui kebesaran-Nya
dan lebih banyak bersyukur atas rahmat-Nya.
Tuhan seringkali memberikan begitu banyak berkat, rahmat dan kenikmatan setiap harinya kepada kita manusia,
agar kita mau menengadah kepada-Nya dan bersyukur atas karunia-Nya.
Namun, sayangnya seringkali hal itu tidak cukup membuat kita manusia untuk mau mendongak keatas,
mengingat kebesaran-Nya,
menengadah kepada-Nya,
mengagungkan nama-Nya
dan bersyukur atas rahmat-Nya.

Karena itu, kadang-kadang Tuhan menggunakan pengalaman-pengalam an menyakitkan,
seperti musibah,
kegagalan,
rasa sakit,
kelaparan
dan berbagai pengalaman menyakitkan lainnya untuk menarik perhatian manusia agar mau mendongak keatas.
Menarik perhatian untuk mau menengadah kepada-Nya,
menyembah kepada-Nya,
mengakui kebesaran-Nya
dan bersyukur atas rahmat-Nya.

Dengan demikian, pengalaman-pengalam an menyakitkan yang kadang kala diterima manusia,
hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian kita.
Hendaknya hal itu membuat kita semakin mempererat hubungan dengan Allah atau "habl min Allah."
Hendaknya hal itu mengajarkan kita untuk mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah,
dan menyadarkan kita adalah makhluk-Nya yang sangat lemah dan tidak berdaya.

Sahabat yang baik, sudah begitu banyaknya rahmat dan berkah Allah senantiasa mengalir setiap detiknya kepada kita semua manusia.
Seperti memiliki pekerjaan yang baik,
memiliki kesehatan yang kita rasakan,
kelengkapan panca indra yang menopang kehidupan kita,
mendapatkan rejeki yang kita nikmati setiap hari,
keluarga yang bahagia yang kita miliki dan lain sebagainya.
Semua itu sesungguhnya adalah rahmat dan berkah dari Allah SWT yang tak ternilai harganya.
Kini apakah Anda akan segera menengadahkan wajah kepada-Nya, ataukah menunggu Allah menjatuhkan "batu" kepada kita ?.

Firman Allah:
Dan apabila Kami memberikan NI'MAT kepada manusia, ia BERPALING dan MENJAUHKAN DIRI; tetapi apabila ia ditimpa MALAPETAKA maka ia banyak BERDO'A. (QS. 41:51)